hai teman-teman online kuhh,
balik lagi nih akunya yang menulis blog di tengah malam dan penuh kegalauan. aku lagi mau curhat nih.. akhir-akhir ini aku lagi sangat-sangat tidak bisa menyesuaikan diriku sendiri dengan lingkungan baru. ada aja masalah yang akuh alami, hems kesall. contoh masalahnya tu aku yang kurang nyaman bertemu dengan orang yang baru, aku suka marah-marah ga jelas, terus aku yang kikukkk dengan suasa yang seharusnya bisa ku atasi. hem bingung kann ahhh gataudehhh.
untuk itu aku sangat baik hati di tengah malam yang cerah dan gerah ini, akuh kasi kalian teman-teman onlineku artikel tentang penyesuaian supaya kalian tidak mengalami hal serupa seperti akuh...
selamat membacaa...
PENYESUAIAN
(ADJUSMENT)
Penyesuaian
adalah suatu hubungan harmonis dengan lingkungan yang melibatkan kemampuan
untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan terpenting dan menghadapi tuntutan, baik
secara fisik & sosial. Penyesuaian diri yang baik bukanlah kemampuan
beradaptasi dengan cepat semata, tetapi juga dengan cara-cara yang sesuai
dengan diri dan lingkungan, serta mengarahkan individu untuk mampu berbuat yang
terbaik dan mengoptimalkan segala potensi yang dimilikinya. Penyesuaian
(Adjustment) terdiri atas tiga
komponen dasar, yaitu: diri sendiri, orang lain, dan perubahan. Jadi, Penyesuaian merupakan
suatu variasi dan perubahan dalam perilaku yang diperlukan untuk memuaskan
kebutuhan-kebutuhan dan menghadapi tuntutan-tuntutan sehingga dapat mendirikan
suatu hubungan yang harmonis dengan lingkungan.
Menurut
Schneiders (1964),
penyesuaian diri adalah proses yang
melibatkan respon-respon mental dan perbuatan individu dalam upaya untuk
memenuhi kebutuhan dan mengatasi ketegangan, dan untuk memelihara keseimbangan
yang lebih wajar. Schneiders berpendapat bahwa penyesuaiandiri dapat ditinjau
dari tiga sudut pandang yaitu penyesuaian diri sebagai adaptasi (adaptation), penyesuaian diri sebagai
bentuk konformitas (conformity) dan
penyesuaian diri sebagai usaha penguasaan (mastery). Sedangkan menurut Atwater
1983 (dalam Dewi 2012),
penyesuaian terjadi dari serangkaian perubahan-perubahan diri dan pada situasi
tertentu dalam hal mencapai suatu hubungan yang memuaskan dengan orang lain
serta apa yang ada disekitar kita.
Defenisi
penyesuaian sendiri juga diungkap oleh
Duffy dan Atwater (Dewi,2012)
sebagai suatu proses psikososial, dimana individu berperan dalam mengelola
tuntutan hidup sehari-hari dengan memodifikasi diri atau memodifikasi
lingkungan.
Aspek-aspek
Penyesuaian
Menurut Atwater
1983 (dalam Dewi,2012)
dalam penyesuaian diri dilihat dari diri kita sendiri, orang lain dan perubahan
yang terjadi. Namun pada dasarnya penyesuaian diri memiliki dua aspek yaitu
penyesuaian pribadi dan penyesuaian sosial.
1.Penyesuaian
Pribadi
Penyesuian pribadi
yaitu kemampuan individu untuk menerima dirinya sendiri
sehingga tercapai hubungan yang harmonis antara dirinya dan lingkungan
sekitarnya. Ia sadar sepenuhnya mengenai dirinya, kelebihan dan kekuranganya
serta mampu bertindak objektif sesuai dengan kondisinya tersebut. Keberhasilan
penyesuaian pribadi ditandai dengan tidak ada rasa benci, lari dari kenyataan
atau tanggung jawab, kecewa ataupun tidak percaya pada kondisi dirinya. Kehidupan
kejiwaannya ditandai dengan tidak adanya kegoncangan atau kecemasan yang
menyertai rasa bersalah, rasa cemas, rasa tidak puas, rasa kurang dan keluhan
terhadap nasib yang dialaminya. 2.Penyesuaian Sosial
Setiap individu hidup di dalam masyarakat.
Di dalam masyarakat tersebut terdapat proses saling mempengaruhi satu sama lain
silih berganti. Dari proses tersebut timbul
suatu pola kebudayaan dan tingkah laku sesuai dengan
sejumlah aturan,hukum, adat dan
nilai-nilai yang mereka patuhi, demi untuk mencapai penyelesaian bagi
persoalan-persoalan hidup sehari-hari. Dalam bidang ilmu psikologi sosial,
proses ini dikenal dengan proses penyesuaian sosial. Penyesuaian sosial terjadi
dalam lingkup hubungan sosial tempat individu hidup dan berinteraksi dengan
orang lain. Hubungan-hubungan tersebut mencakup hubungan dengan masyarakat di
sekitar tempat tinggalnya, keluarga, sekolah, teman atau masyarakat luas secara
umum. Dalam hal ini individu dan masyarakat sebenarnya sama-sama memberikan
dampak bagi komunitas. Individu menyerap berbagai informasi, budaya dan adat
istiadat yang ada, sementara komunitas (masyarakat) diperkaya oleh eksistensi
atau karya yang diberikan oleh sang individu.
Apa yang diserap atau dipelajari individu
dalam poroses interaksi dengan masyarakat masih belum cukup untuk
menyempurnakan penyesuaian sosial yang memungkinkan individu untuk mencapai
penyesuaian pribadi dan sosial dengan cukup baik. Proses berikutnya yang harus
dilakukan individu dalam penyesuaian sosial adalah kemauan untuk mematuhi
norma-norma dan peraturan sosial kemasyarakatan. Setiap masyarakat biasanya
memiliki aturan yang tersusun dengan sejumlah ketentuan dan norma atau
nilai-nilai tertentu yang mengatur hubungan individu dengan kelompok. Dalam
proses penyesuaian sosial individu mulai berkenalan dengan kaidah-kaidah dan peraturan-peraturan
tersebut lalu mematuhinya sehingga menjadi bagian dari pembentukan jiwa sosial
pada dirinya dan menjadi pola tingkah laku kelompok.
Schneiders (1964) mengungkapkan bahwa penyesuaian diri yang baik
meliputi enam aspek sebagai berikut :
1. Kontrol
terhadap emosi yang berlebihan.
Aspek
ini menekankan kepada adanya kontrol dan ketenangan emosi individu yang
memungkinkannya untuk menghadapi permasalahan secara cermat dan dapat
menentukan berbagai kemungkinan pemecahan masalah ketika muncul hambatan. Bukan
berarti tidak ada emosi sama sekali, tetapi lebih kepada kontrol emosi ketika
menghadapi situasi tertentu.
2. Mekanisme
pertahanan diri yang minimal.
Aspek
ini menjelaskan pendekatan terhadap permasalahan lebih mengindikasikan respon
yang normal dari pada penyelesaian masalah yang memutar melalui serangkaian
mekanisme pertahanan diri yang disertai tindakan nyata untuk mengubah suatu
kondisi. Individu dikategorikan normal jika bersedia mengakui kegagalan yang
dialami dan berusaha kembali untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Individu
dikatakan mengalami gangguan penyesuaian jika individu mengalami kegagalan dan
menyatakan bahwa tujuan tersebut tidak berharga untuk dicapai.
3. Frustrasi
personal yang minimal.
Individu
yang mengalami frustrasi ditandai dengan perasaan tidak berdaya dan tanpa
harapan, maka akan sulit bagi individu untuk mengorganisir kemampuan
berpikir, perasaan, motivasi dan tingkah laku dalam menghadapi situasi yang
menuntut penyelesaian.
4. Pertimbangan rasional dan kemampuan mengarahkan diri.
Individu memiliki kemampuan berpikir dan
melakukan pertimbangan terhadap masalah atau konflik serta kemampuan
mengorganisasi pikiran, tingkah laku, dan perasaan untuk memecahkan masalah,
dalam kondisi sulit sekalipun menunjukkan penyesuaian yang normal. Individu
tidak mampu melakukan penyesuaian diri yang baik apabila individu dikuasai oleh
emosi yang berlebihan ketika berhadapan dengan situasi yang menimbulkan
konflik.
5. Kemampuan untuk belajar dan memanfaatkan pengalaman masa lalu. Penyesuaian normal yang ditunjukkan
individu merupakan proses belajar berkesinambungan dari perkembangan individu
sebagai hasil dari kemampuannya mengatasi situasi konflik dan stres. Individu
dapat menggunakan pengalamannya maupun pengalaman orang lain melalui proses
belajar. Individu dapat melakukan analisis mengenai faktor-faktor apa saja yang
membantu dan mengganggu penyesuaiannya.
6. Sikap realistik dan objektif. Sikap yang realistik dan objektif
bersumber pada pemikiran yang rasional, kemampuan menilai situasi, masalah dan
keterbatasan individu sesuai dengan kenyataan
sebenarnya.
Kriteria penyesuaian
Scheneiders (1964) mengemukakan
beberapa kriteria penyesuaian yang tergolong baik (well adjustment) ditandai dengan:
1.
Pengetahuan dan tilikan
terhadap diri sendiri
2.
Obyektivitas diri dan
penerimaan diri,
3.
Pengendalian diri dan
perkembangan diri,
4.
Keutuhan pribadi,
5.
Tujuan dan arah yang
jelas,
6.
Perspektif, skala nilai
dan filsafat hidup memadai,
7.
Rasa humor,
8.
Rasa tanggung jawab,
9.
Kematangan respon,
10. Perkembangan
kebiasaan yang baik,
11. Adaptabilitas,
12. Bebas
dari respon-respon yang simptomatis (gejala gangguan mental),
13. Kecakapan
bekerja sama dan menaruh minat kepada orang lain,
14. Memiliki
minat yang besar dalam bekerja dan bermain,
15. Kepuasan
dalam bekerja dan bermain, dan
16. Orientasi
yang menandai terhadap realitas.
Schneiders juga mengungkapkan bahwa
individu yang memiliki penyesuaian diri yang baik (well adjustment person) adalah mereka dengan segala
keterbatasannya, kemampuannya serta kepribadiannya telah belajar untuk bereaksi
terhadap diri sendiri dan lingkungannya dengan cara efisien, matang,
bermanfaat, dan memuaskan.
Efisien artinya bahwa apa yang
dilakukan individu tersebut dapat memberikan hasil yang sesuai dengan yang
diinginkan tanpa banyak mengeluarkan energi, tidak membuang waktu banyak, dan
sedikit melakukan kesalahan. Matang artinya bahwa individu tersebut dapat
memulai dengan melihat dan menilai situasi dengan kritis sebelum bereaksi. Bermanfaat artinya bahwa apa yang
dilakukan individu tersebut bertujuan untuk kemanusiaan, berguna dalam
lingkungan sosial, dan yang berhubungan dengan Tuhan. Selanjutnya, memuaskan
artinya bahwa apa yang dilakukan individu tersebut dapat menimbulkan perasaan
puas pada dirinya dan membawa dampak yang baik pada dirinya dalam bereaksi
selanjutnya. Mereka juga dapat menyelesaikan konflik-konflik mental, frustasi
dan kesulitan-kesulitan dalam diri maupun kesulitan yang berhubungan dengan
lingkungan sosialnya serta tidak menunjukkan perilaku yang memperlihatkan
gejala menyimpang.
Tahapan Proses
Penyesuaian Diri
Usaha penyesuaian diri dapat berlangsung
dengan baik dan dapat juga berlangsung tidak baik. Penyesuaian diri yang baik
adalah dengan mempunyai ciri-ciri dapat diterima di suatu kelompok, dapat
menerima dirinya sendiri, dapat menerima kekurangan dan kelebihan diri sendiri.
Sedangkan penyesuaian diri yang tidak baik ditunjukan dengan buruknya hubungan
sosial individu dengan lingkungan sekitarnya.
Penyesuaian diri yang baik adalah yang
selalu ingin diraih setiap orang yang tidak akan dapat tercapai, kecuali bila
kehidupan orang tersebut benar-benar terhindar dari tekanan, kegoncangan dan
ketegangan jiwa yang bermacam-macam, serta orang tersebut mampu untuk
menghadapi kesukaran dengan cara objektif serta berpengaruh bagi kehidupannya,
menikmati kehidupannya dengan stabil, tenang, merasa senang, tertarik untuk
bekerja, dan berprestasi.
Ada beberapa
langkah efektif dalam menyesuaikan diri, diantaranya yaitu :
a.
Persepsi yang akurat terhadap
realitas
Kemampuan individu untuk mengetahui komsekuensi dari segala
tingkah lakunya. Dengan adanya kemampuan untuk mengetahui apa yang menjadi
akibat dari perilakunya, individu diharapkan dapat menghindari
perilaku-perilaku yang dapat mengganggu ketentraman bersama.
b. Kemampuan untuk mengatasi kecemasan dan stres
Individu memiliki kemampuan untuk
mentoleransi hambatan - hambatan yang ada saat mencapai tujuan hidupnya. Tidak
ada suatu kecamasan maupun stress yang membebani individu untuk mencapai
tujuannya.
c. Citra
diri yang positif
Individu menyadari kondisi
kehidupannya saat ini. Individu mampu mengenali kelamahan maupun kelebihannya
yang ada pada dirinya.
d. Kemampuan
untuk mengekspresikan perasaannya
Individu yang sehat akan mampu
mengekspresikan emosinya dan ia akan memiliki kendali atas emosinya sendiri.
Dengan adanya kendali atas emosinya maka ia tidak akan merugikan lingkungannya.
e. Hubungan
antar pribadi yang baik.
Individu akan memiliki hubungan yang
aman dan nyaman dengan lingkungan sosialnya.
Faktor-faktor
yang Mempengaruhi Penyesuaian
Menurut Schneiders (1964) setidaknya ada lima
faktor yang dapat mepengaruhi proses penyesuaian diri (khusus remaja) adalah
sebagai berikut:
a.
Kondisi fisik
Seringkali kondisi fisik berpengaruh kuat
terhadap proses penyesuaian diri remaja. Aspek-aspek yang berkaitan dengan
kondisi fisik yang dapat mempengaruhi penyesuaian diri remaja adalah sebagai berikut:
1.
Hereditas dan kondisi
fisik, Dalam mengidentifikasi pengaruh hereditas terhadap penyesuaian diri,
lebih digunakan pendekatan fisik karena hereditas dipandang lebih dekat dan tak
terpisahkan dari mekanisme fisik. Dari sini berkembang prinsip umum bahwa
semakin dekat kapasitas pribadi, sifat atau kecenderungan berkaiatan dengan
konstitusi fisik maka akan semakin besar pengaruhnya terhadap penyesuaian diri.
2.
Sistem utama tubuh,
Termasuk ke dalam sistem utama tubuh yang memiliki pengaruh terhadap
penyesuaian diri adalah sistem syaraf, kelenjar dan otot. Sistem syaraf yang
berkembang dengan normal dan sehat merupakan syarat mutlak bagi fungsi-fungsi
psikologis agar dapat berfungsi secara maksimal yang akhirnya berpengaruh
secara baik pula kepada penyesuaian diri.
3. Kesehatan
fisik, Penyesuaian diri seseorang akan lebih mudah dilakukan dan dipelihara
dalam kondisi fisik yang sehat daripada yang tidak sehat. Kondisi fisik yang
sehat dapat menimbulkan penerimaan diri, kepercayaan diri, harga diri dan
sejenisnya yang akan menjadi kondisi yang sangat menguntungkan bagi proses
penyesuian diri. Sebaliknya kondisi fisik yang tidak sehat dapat mengakibatkan
perasaan rendah diri, kurang percaya diri, atau bahkan menyalahkan diri
sehingga akan berpengaruh kurang baik bagi proses penyesuaian diri.
b.
Kepribadian
Unsur –unsur kepribadian yang penting pengaruhinya terhadap
penyesuaian diri adalah sebagai berikut:
1.
Kemauan dan kemampuan
untuk berubah (modifiability)
Kemauan
dan kemampuan untuk berubah merupakan karakteristik kepribadian yang
pengaruhnya sangat menonjol terhadap proses pentyesuaian diri. Sebagai suatu
proses yang dinamis dan berkelanjutan, penyesuaian diri membutuhkan
kecenderungan untuk berubah dalam bentuk kemauan,
prilaku, sikap, dan karakteristik sejenis lainnya. Oleh sebab itu semakin kaku
dan tidak ada kemauan serta kemampuan untuk merespon lingkungan, semakin besar
kemungkinanya untuk mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri.
2.
Pengaturan diri (self
regulation)
Pengaturan
diri sama pentingnya dengan penyesuaian diri dan pemeliharaan stabilitas
mental, kemampuan untuk mengatur diri,
dan mengarahkan diri. Kemapuan mengatur diri dapat mencegah individu dari
keadaan malasuai dan penyimpangan kepribadian. Kemampuan pengatauran diri dapat
,mengarahkan kepribadian normal mencapai pengendalian diri dan realisasi diri.
3.
Relisasi diri (self
relization)
Telah
dikatakan bahwa pengaturan kemampuan diri mengimplikasiakan potensi dan
kemampuan kearah realisasi diri. Proses penyesuaian diri dan pencapaian
hasilnya secara bertahap sangat erat kaitanya dengan perkembangan kepribadian.
Jika perkembangan kepribadain berjalan normal sepanjang masa kanak-kanak dan
remaja, di dalamnya tersirat portensi laten dalam bentuk sikap, tanggung jawab,
penghayatan nilai- nilai, penghargaan diri dan lingkungan, serta karakteristik
lainnya menuju pembentukan kepribadian dewasa. Semua itu unsur-unsur penting
yang mendasari relaitas diri.
4.
Intelegensi
Kemampuan
pengaturan diri sesungguhnya muncul tergantung pada kualitas dasar lainnya yang
penting peranannya dalam pemyesuaian diri, yaitu kualitas intelegensi. Tidak
sedikit, baik buruknya penyesuaian diri seseorang ditentukan oleh kapasitas
intelektualnya atau intelegensinnya. Intelegensi sangat penting bagi perolehan
gagasan, prinsip, dan tujuan yang memainkan peranan penting dalam proses penyesuain diri. Misalnya kualitas
pemikiran seseorang dapat memungkinkan orang
tersebut melakukan pemilihan dan mengambil keputusan penyesuain diri secara
intelegensi dan akurat.
c.
Proses belajar (Education)
Termasuk unsur-unsur penting dalam education atau
pendidikan yang dapat mempengaruhi penyesuaian diri individu antara lain:
1.
Belajar
Kemauan
belajar merupakan unsur tepenting dalam penyesuaian diri individu karena pada
umumnya respon-respon dan sifat-sifat kepribadian yang diperlukan bagi
penyesuaian diri diperoleh dan menyerap kedalam diri individu melalui proses
belajar. Oleh karena itu kemauan untuk belajar dan sangat penting karena proses
belajar akan terjadi dan berlangsung dengan baik dan berkelanjutan manakalah
individu yang bersangkutan memiliki kemauan yang kuat untuk belajar. Bersama-
sama dengan kematangan, belajar akan muncul dalam bentuk kapasitas dari dalam
atau disposisi terhadap respon. Oleh sebab itu, perbedaan pola-pola penyesuaian
diri sejak dari yang normal sampai dengan yang malasuai, sebagain besar
merupakan hasil perbuatan yang dipengaruhi oleh belajar dan kematangan.
2.
Pengalaman
Ada
dua jenis pengalaman yang memiliki nilai signifikan terhadap pross penyesuaian diri, yaitu (1) pengalaman yang menyehatkan (salutary experiences) dan (2) pengalaman
traumatic (traumatic experinces). Pengalaman
yang menyatakan adalah peristiwa-peristiwa yang dialami oleh individu dan
dirasakan sebagai suatu yang mengenakkan, mengasyikakan, dan bahkan di rasa
ingin mengulangnya kembali. Pengalaman seperti ini akan dijadikan dasar untuk
ditansfer oleh individu ketika harus menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru. Adapun
pengalaman trauma adalah peristiwa-peristiwa yang dialami oleh individu
dan dirasakan sebagai sesuatu yang sangat tidak mengenakkan, menyedihkan, atau
bahkan sangat menyakitkan sehingga individu tersebut sangat tidak ingin
peristiwa itu terulang lagi.
3.
Latihan
Latihan
merupakan proses belajar yang diorientasikan kepada perolehan keterampilan atau
kebiasaan. Penyesuain diri sebagai suatu proses yang kompleks yang mencakup
didalamnya proses psikologis dan sosiologis maka memerlukan latihan yang
sungguh-sungguh agar mencapai hasil penyesuaian diri yang baik. Tidak jarang
seseorang yang sebelumnya memiliki kemampuan penyesuaian diri yang kurang baik
dan kaku, tetapi melakukan latihan secara sungguh-sungguh, akhirnya lambat laun
menjadi bagus dalam setiap penyesuaian diri dengan lingkungan baru.
4.
Deteminasi diri
Berkaitan
erat dengan penyesuaian diri adalah sesungguhnya individu itu sendiri untuk
melakukan proses penyesuaian diri.
d.
Lingkungan
Berbicara faktor lingkungan sebagai variabel yang
berpengaruh terhadapa penyesuaian diri seudah tentu meliputi lingkungan
keluarga, sekolah dan masyarakat.
1.
Lingkungan Keluarga
Lingkungan
keluarga merupakan lingkungan utama yang sangat penting atau bahkan tidak ada
yang lebih penting dalam kaitannya dengan penyesuaian diri.
2.
Lingkungan Sekolah
Ligkungan sekolah menjadi kondisi yang
memungkinkan untuk berkembangnya atau terhambatnya proses berkembangnya
penyesuaian diri. Pada umunya sekolah dipandang sebagai media yang sangat
berguna untuk mempengaruhi kehidupan dan perkembangan intelektual, sosial,
nilai – nilai, sikap, dan moral peserta didik.
3.
Lingkungan Masyarakat
Konsistensi nilai – nilai, sikap, aturan
– aturan, norma, moral, dan perilaku masyarakat akan diidentifikasi oleh
individu yang berada dalam masyarakat tersebut sehingga akan berpengaruh
terhadap proses perkembangan penyesuaian dirinya.
e.
Agama serta budaya
Agama berkaitan erat dengan faktor budaya agama
memberikan sumbangan nilai- nilai, keyakinan, praktik-praktik yang memberikan
makna yang sangat mendalam, tujuan, serta kestabilan dan keseimbangan hidup
individu. Agama secara konsisten dan terus menerus mengingatkan manusia yang
diciptakan oleh Tuhan, bukan sekedar nilai – nilai instrumental sebagaimana
yang dihasilkan oleh manusia. Selain itu budaya juga merupakan faktor yang
berpengaruh terhadapa kehidupan individu. Hal ini terlihat jika dilihat dari
karakteristik budaya yang diwariskan kepada individu melalui berbagai media
dalam lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Dengan demikian faktor
agama serta budaya memberikan sumbangan yang berarti terhadap perkembangan
penyesuaian diri individu.
Karakteristik Penyesuaian Diri
Tidak semua individu berhasil dalam
menyesuaiakn diri dan banyak
rintangannya, baik dari dalam maupun luar. Beberapa individu ada yang
dapat melakukan penyesuaian diri secara
positif, namun ada pula yang melakukan penyesuaian diri yang salah.
a)
Penyesuaian Diri Secara Positif
Mereka tergolong mampu melakukan penyesuaian diri secara
positif ditandai hal- hal sebagai berikut:
a.
Tidak menunjukkan
adanya ketegangan emosional.
b.
Tidak menunjukkan
adanya mekanisme-mekanisme psikologis.
c.
Tidak menunjukkan
adanya frustasi pribadi.
d.
Memiliki pertimbangan
rasional dan pengarahan diri.
e.
Mampu dalam belajar.
f.
Menghargai pengalaman.
g.
Bersikap realistik dan
objektif.
Dalam melakukan penyesuaian diri secara positif,
individu akan melakukannya dalam berbagai bentuk, antara lain:
1.
Penyesuaian dengan
menghadapi masalah secara langsung.
Individu secara langsung menghadapi
masalahnya dengan mengemukakan alasan – alasannya, misalnya seorang remaja yang
hamil sebelum menikah akan menghadapinya secara langsung dan berusahan
mengemukakan segala alasan pada orangtuanya.
2.
Penyesuaian dengan
melakukan eksplorasi (penjelajahan)
Individu mencari berbagai cara untuk
mampu menyesuaikan diri dengan situasinya saat itu sebagai suatu pengalaman
misalnya seorang peserta didik yang merasa kurang mampu dalam mengerjakan tugas
membuat makalah akan mencari bahan dalam upaya menyelesaikan tugas tersebut,
dengan membaca buku, konsultasi, diskusi, dsb.
3.
Penyesuaian dengan
trial and error atau coba-coba.
Individu melakukan tindakan coba-coba
dalam menghadapi masalah, jika menguntungkan akan dilanjutkan dan jika gagal
maka akan dihentikan, dimana dalam hal ini pemikirannya tidak berperan
dibandingkan dengan cara eksplorasi misalnya seorang pengusaha mengadakan
spekulasi untuk meningkatkan usahanya.
4.
Penyesuaian dengan
substitusi (mencari pengganti).
Jika individu merasa gagal dalam
menghadapi masalah maka ia akan mencari pengganti untuk memeroleh atau bisa
menyesuaikan diri dalam masalah tersebut misalnya gagal berpacaran secara
fisik, ia akan berfantasi tentang seorang gadis idamanya.
5.
Penyesuaian diri dengan
menggali kemampuan diri.
Individu mencoba menggali kemampuan yang ada
dalam dirinya dan kemudian dikembangkannya sehingga mampu membantunya untuk
menyesuaikan diri
6.
Penyesuaian dengan belajar.
Individu memeroleh banyak pengetahuan
melalui belajar dan keterampilan yang dapat membantunya menyesuaikan diri
misalnya seorang guru akan berusaha belajar tentang berbagai ilmu pengetahuan
untuk meningkatkan kemampuan profesionalismenya
7.
Penyesuaian dengan
inhibisi dan pengendalian diri.
Penyesuaian diri akan lebih berhasil
jika disertai dengan kemampuan memilih tindakan yang tepat dan pengendalian
diri secara tepat. misalnya seorang peserta didik akan berusaha memilih
tindakan mana yang harus dilakukan pada ujian.
8.
Penyesuaian dengan
perencanaan yang cermat.
Tindakan yang dilakukan diambil
berdasarkan perencanaan yang cermat, dan keputusan diambil setelah
dipertimbangkan dari berbagai segi ( dari segi untung dan ruginya).
b)
Penyesuain Diri yang Negatif
Kegagalan dalam melakukan penyesuaian diri secara
positif, dapat mengakibatkan individu
melakukan penyesuaian yang salah. Penyesuaian diri yang salah ditandai dengan berbagai bentuk tingkah laku yang serba
salah, tidak terarah, emosional, sikap yang tidak realistik, agresif, dan
sebagainya. Ada tiga bentuk reaksi dalam penyesuaian yang salah yaitu:
1.
Reaksi Bertahan (Defence Reaction).
Individu berusaha untuk
mempertahankan dirinya, seolah-olah tidak menghadapi kegagalan. Ia selalu
berusaha untuk menunjukkan bahwa dirinya tidak mengalami kegagalan. Bentuk
khusus reaksi ini antara lain:
a. Rasionalisasi,
yaitu bertahan dengan mencari- cari alasan untuk membenarkan tindakanya
b. Represi,
yaitu berusaha untuk menekan pengalamannya yang dirasakan kurang enak kea lam
tidak sadar. Ia berusaha melupakan
pengalamannya yang kurang menyenangkan. Misalnya seorang pemuda berusaha
melupakan kegagalan cintanya dengan seorang gadis
c. Proyeksi,
yaitu melemparkan sebab kegagalan dirinya kepada pihak lain untuk mencari
alasan yang dapat diterima. Misalnya seorang peserta didik yang tidak lulus
mengatakan bahwa gurunya membenci dirinya.
d. Sourgrapes yaitu
dengan memutar balikkan keadaan. Misalnya seorang peserta didik yang gagal
mengetik mengatakan bahwa mesin tiknya rusak, padahal dia sendiri tidak bisa mengetik.
2.
Reaksi Menyerang (Aggressive
Reaction).
Orang yang mempunyai penyesuaian diri
yang salah menunjukkan tingkah laku yang bersifat menyerang untuk menutupi
kegagalannya. Ia tidak mau menyadari kegagalannya. Reaksi-reaksinya tampak
dalam tingkah laku:
a. Selalu
membenarkan diri sendiri
b. Mau
berkuasadalam setiap situasi Mau memiliki segalanya.
c. Bersikap
senang mengganggu orang lain
d. Menggertak
baik dengan ucapan maupun dengan perbuatan
e. Menunjukkan
sikap permusuhan secara terbuka
f. Menunjukkan
sikap menyerang dan merusak
g. Keras
kepala dalam perbuatannya
h. Bersikap
balas dendam
i. Memperkosa
hak orang lain
j. Tindakan
yang serampangan
3.
Reaksi
melarikan diri ( Escape Reaction )
Dalam
reaksi ini orang mempunyai penyesuaian diri yang salah akan melarikan diri dari
situasi yang menimbulkan kegagalan, reaksinya tampak dalam tingkah laku sebagai
berikut: berfantasi yaitu memasukan keinginan yang tidak tercapai dalam bentuk
angan - angan (seolah-olah sudah tercapai), banyak tidur, minum-minuman keras,
bunuh diri, menjadi pecandu ganja, narkotika,
dan regresi yaitu kembali kepada awal (misal orang dewasa yang bersikap dan
berwatak saperti anak kecil) dan lain-lain.
Penyesuaian Diri dan Kesehatan Mental
Pentingnya
pengetahuan tentang proses, sifat dan kondisi dari penyesuaian diri akan
memunculkan prinsip dan praktik tentang mental hygiene. Tujuan dari mental
hygiene itu sendiri adalah untuk memperbaiki, mencegah dan mengurangi mal-adjusment
dan gangguan kepribadian.
Beberapa
prinsip kesehatan mental adalah:
a. Gambaran dan
sikap yang baik terhadap diri.
b. Keterpaduan
atau integrasi diri.
c. Perwujudan
diri.
d. Berkemampuan
menerima orang lain, melakukan aktivitas sosial, dan menyesuaikan diri dengan
lingkungan tempat tinggal.
e. Berminat
dalam tugas dan pekerjaan.
f. Agama,
cita-cita dan falsafah hidup.
g. Pengawasan
diri.
h. Rasa benar
dan tanggung jawab.
Pendapat di atas
bahwa kesehatan mental itu tidak hanya sebagai suatu kemampuan untuk melakukan
penyesuaian diri saja. Karena banyak orang yang mampu menyesuaikan diri dengan
lingkungannya tetapi mereka belum bisa dikatakan sehat secara mental. Meskipun
demikian penyesuaian diri tetap dijadikan sebagai tolok ukur yang mutlak dalam
penentuan kriteria kesehatan mental peserta didik yang baik.
DAFTAR PUSTAKA
Dewi,
K. S. (2012). Buku Ajar Kesehatan Mental.
Semarang: UPT UNDIP Press.
Mahmud, M.D. (1990). Psikologi:
Suatu Pengantar Psikologi. Yogjakarta: BPFE
Markam,
S. S. I. S. S. (2003). Pengantar
Psikologi Klinis. Jakarta: UI Press.
Schneiders,
Alexander.A. (1964). Personal adjustment
& Mental health.
New York : Rinehart and Winston.
Wah, bagus sekali artikelnya. Sangat membantu saya yang sedang tidak bisa menyesuaikan diri akhir2 ini. Sgt bermanfaat๐
BalasHapuskeren nihhh... maacii yaaaa udah membuat saya tau mengenai info iniii..
BalasHapusSangat bermanfaat sekali desitaaa. Terimakasih yaa. Semakin dipermudah karena ada sitasinya juga. Semangat semoga bisa posting hal bermanfaat lainnya❤️
BalasHapuslengkap yaa jadi utk orang-orang yang sulit menyesuaikan diri di lingkungan baru bisa baca2 dr sini karna udah lengkap. terima kasih postingannya
BalasHapusWahh cocok utk orang seperti aku nih
BalasHapusWahh cocok utk orang seperti aku nih
BalasHapusWah lengkap. Bisa dijadikan bahan bacaan untuk orang yg sedang sulit menyesuaikan diri. Sangat bermanfaat
BalasHapusInformasinya sangat bagus, ditambah dengan adanya refrensi yang tercantum, sangat memudahkan bagi para pembaca, terimakasiihh
BalasHapusterimakasih sudah berbagi informasi!
BalasHapus๐๐๐๐
BalasHapusTerimakasih informasinya yaaa bermanfaat bgt
BalasHapusKeren nih, bisa bahas masalah sehari hari pake teori
BalasHapusSangat membantu informasinya. Bahasanya mudah di pahami lagi
BalasHapusMakasih infonyaaa
BalasHapusCute font dan warnanyaa.. Ilmu yg disampaikan jadi myaman dibaca ❤️
BalasHapusBerguna bagi bangsa dan negara
BalasHapus